Lebih dari itu, pemerintah perlu mengubah paradigma. Pembiayaan pesantren tidak boleh dipandang sebagai pengeluaran semata. Ia adalah investasi peradaban.
Di pesantrenlah ribuan generasi muda ditempa. Di pesantren pula nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, ukuran keberhasilan Perda Pesantren bukan terletak pada jumlah regulasi yang diterbitkan, melainkan pada seberapa besar perubahan yang dirasakan oleh para santri, guru, dan pengelola pesantren.
Sumatera Selatan kini berada di persimpangan. Pilihannya sederhana, menjadikan pesantren sebagai prioritas pembangunan sumber daya manusia atau membiarkannya terus bertahan dengan segala keterbatasan.


Komentar