Pertama, kiai memang harus memimpin seperti raja dalam tanggung jawab, tetapi tidak seperti raja dalam kemuliaan.
Kedua, memimpin dengan kewibawaan, bukan keangkuhan.
Ketiga, memiliki otoritas, tetapi tetap membuka ruang musyawarah.
Keempat, dihormati karena akhlaknya, bukan karena jabatannya.
Ada ungkapan yang menurut saya tepat:
“Pesantren besar tidak lahir karena kiai yang selalu merasa benar, tetapi karena kiai yang selalu mau belajar.”
Dan ujian terbesar seorang kiai sering kali bukan saat memulai pesantren dari nol, melainkan ketika pesantrennya sudah besar, namanya sudah masyhur, dan semua orang memujinya. Pada titik itulah tawadhu’ menjadi lebih sulit daripada membangun gedung.
Seseorang pernah berkata dengan nada kesal:
“Kiai, memangnya siapa?”
Lalu ia sendiri menjawab:


Komentar