Kiai Raja, Raja Kiai

SPH Umbaran.com Rabu, 17 Juni 2026 | 10:09 WIB
KH. Mudrik Qori
Kiai Raja, Raja Kiai

Irving Janis (1982) menyebut fenomena ini sebagai groupthink, yaitu keadaan ketika sebuah kelompok kehilangan kemampuan berpikir kritis karena terlalu kuatnya dorongan untuk mempertahankan kesepakatan. Dalam situasi seperti itu, kesalahan menjadi sulit dikenali karena tidak ada lagi suara yang berani mengoreksi.

Kesepian intelektual adalah kondisi ketika seorang pemimpin dikelilingi penghormatan, tetapi kehilangan kritik. Ia memiliki pengikut, tetapi tidak lagi memiliki sahabat yang berani mengatakan kebenaran. Padahal, dalam tradisi Islam, nasihat dan koreksi merupakan bagian penting dari kepemimpinan yang sehat.

Yang Patut Diteladani

Dari kiai-kiai besar yang dikenang sejarah, biasanya ada tiga ciri.

Pertama, tawadhu’ meskipun berpengaruh.

Kedua, mau mendengar meskipun berilmu.

Ketiga, mau mengalah meskipun mampu menang.

Lihat figur seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, atau KH Zainuddin Abdul Madjid. Yang dikenang bukan hanya pengaruhnya, tetapi juga kerendahan hatinya.

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din mengingatkan bahwa salah satu penyakit ilmu adalah ujub atau kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar tuntutan untuk menyadari keterbatasannya sendiri (Al-Ghazali, 2010). Karena itu, kerendahan hati bukan sekadar akhlak personal, melainkan syarat penting bagi keberlanjutan kepemimpinan.

Seharusnya Bagaimana?

Mudrik Qori
Penulis : Mudrik Qori Editor : SPH Sumber : -

Umbaran Media Network merupakan bagian dari SPH Media Corp.

Komentar

1000 Karakter tersisa